Mengenal Wakaf

•20 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

SEJARAH AWAL WAKAF

Wakaf pada Masa Nabi dan Sahabat

Ibnu Daqiq al-Ied dalam Ahkam al Ahkam, seperti dikutip oleh Ahkam al Awqaf susunan Muhammad Abid Abdullah al-Kabisi, menyebutkan bahwa perbuatan wakaf pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw yang mewakafkan sebidang tanah untuk keperluan muslimin.

Selanjutnya, Dr. Wahbah Zuhaily ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 92 “Lan tanaalul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun…” (Kamu belum mencapai kebajikan sehingga kamu menginfakkan sesuatu yang kamu cintai…), menyebutkan bahwa para sahabat mengamalkan ayat tersebut dengan cara bersedekah. Di antaranya seperti diriwayatkan oleh periwayat hadits (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, Turmudzi, dan Ibnu Majah) dari Anas bin Malik, bahwa Abu Thalhah adalah seorang sahabat yang memiliki kebun korma yang paling banyak di Madinah. Dari sekian banyak kebun yang dimilikinya itu terdapat kebun yang disebut Bairuha’, yang terletak berhadapan dengan Mesjid (Medinah?). Nabi sering masuk ke Bairuha’, makan korma dan menikmati air yang berasal dari dari mata air di dalamnya yang nikmat sekali. Maka dapat dipahami mengapa Abu Thalhah memandang harta yang paling disenanginya adalah kebun Bairuha’ tersebut.

Ketika turun ayat 92 surat Ali Imran, Abu Thalhah bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya harta yang paling kusenangi adalah (kebun) Bairuha’. Saya berniat menyedekahkan kebun tersebut semata-mata karena Allah Ta’ala. Aku mengharapkan kebajikan (dengan sedekah tersebut) dan pahala yang disediakan Allah. Maka tentukanlah wahai Rasulullah bagaimana sebaiknya menurut petunjuk yang diberikan Allah kepada engkau. Rasulullah Saw menanggapi: “Wah, wah alangkah baiknya, “dzalika maalun rabih” (yah, cara demikianlah menjadikan harta itu mendatangkan keuntungan). Aku mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat sebaiknya engkau menjadikan Bairuha’ untuk (dikelola) oleh karib kerabatmu.” Baiklah, lakukanlah apa yang terbaik menurut engkau wahai Rasulullah.!” Setelah itu Abu Thalhah membagi (peruntukan pemanfaatan) kebun Bairuha’ menjadi dua bagian, yaitu untuk Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Malik.

Kisah sedekah tanah Abu Thalhah kepada kerabatnya Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Malik menunjukkan bahwa sedekah kepada karib kerabat lebih utama dan, bagi yang bersedekah (mutashaddiq) hal itu lebih baik dan menjauhkan diri dari penyesalan.

Perbuatan bersedekah seperti yang dilakukan Abu Thalhah juga diamalkan oleh sahabat lain. Zaid bin Haritsah memiliki seekor kuda bernama Sabal. Tak ada harta yang demikian disenangi oleh bekas anak angkat dan pejuang muslim yang gagah berani itu melainkan kuda Sabal. Di hadapan Nabi dia menyatakan (mengikrarkan): “Kuda Sabal adalah sedekah saya.” Rasulullah Saw menerimanya dan kemudian dimanfaatkan oleh anaknya Usamah bin Zaid. Maksudnya Nabi menyerahkan (memberikan) kuda tersebut untuk dimanfaatkan oleh puteranya sendiri Usamah, yang juga seorang pejuang, yang diangkat menjadi panglima pasukan muslimin memerangi pasukan Musailamah al-Kadzdzab yang murtad dari agama Islam. Semula Zaid menanggapi dengan sedih, karena seolah-olah Rasulullah memulangkan sedekah itu untuk dirinya sendiri. Karena itu Nabi Saw menjelaskan: “Innalllaha qad qabalaha minka” (Sesungguhnya Allah telah menerima sedekah engkau).

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Umar bin Khattab menyatakan:” Wahai Rasulullah, belum pernah saya memperoleh harta demikian menyenangkan hatiku yang ditetapkan sebagai bagian (saham)ku di Khaibar. Apakah yang engkau perintahkan kepadaku mengenai tanahku di Khaibar itu? Beliau bersabda: “Habbis al-ashla wa sabbil ats- stamarah” (Tahanlah pokok kepemilikannya, dan manfaatkanlah hasilnya).

Abdullah ibnu Umar mengamalkan ayat di atas dengan cara memerdekakan maulanya bernama Nafi’, yang pernah dibelinya dari Abdullah ibnu Ja’far seharga 1.000 Dinar. Selain itu Ibnu Umar masih memiliki seorang budak perempuan berasal dari Romawi. Namanya Marjanah. Budak itupun juga dibebaskan karena mengharapkan ridla Allah. Setelah merdeka, Nafi’ (yang juga telah dimerdekakan Ibnu Umar) dinikahkan dengan Marjanah.

Muhammad al-Kabisi menambahkan bahwa perbuatan yang disebut wakaf itu dilakukan pula oleh Zubair bin Awwam dengan cara mewakafkan rumahnya, dengan cara menjadikan rumah itu sebagai sedekah untuk pelayan anak perempuannya.

Demikianlah semangat bersedekah (wakaf) hidup di kalangan para sahabat, dan diteruskan oleh para tabi’in. Pada zaman Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah, wakaf telah meluas serta memicu umat Islam untuk mewakafkan harta mereka. Jangkauan wakaf itu sedemikian luasnya, sehingga tidak hanya terbataspada penyaluran kepada kalangan fakir miskin, akan telah telah merambah kepada pendirian saranah ibadah, tempat-tempat pengungsian, perpusatakaan, sarana pendidikan, serta pemberian beas siswa untuk para pelajar, tenaga pengajar, dan orang-orang yang terlibat di dalamya.

Minat masyarakat yang demikian besar untuk berwakaf, mendorong munculnya gagasan untuk mendirikan lembaga khusus yang bergerak di bidang wakaf, baik untuk menampung harta wakaf maupun untuk mengelolanya. Di samping itu, kata Muhammad al-Kabisi, wakaf yang pada awal perjalannya berlangsung tanpa adanya pengawasan atau intervensi dari pemerintah, dalam perkembangannya, juga menuntut didirikannya lembaga khusus yang berfungsi mengawasi wakaf.

Demikianlah surat Ali Imran ayat 92 telah mendorong sejumlah sahabat menjadikan seruan mencapai al-bir (menurut tafsir berarti: syurga, puncak amal saleh atau sedekah yang paling baik) dengan cara bersedekah, yang kemudian dikenal dengan nama wakaf.

Pengertian Wakaf

•20 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

A. Pengertian

Wakaf menurut bahasa “Waqaf lughatan” berasal dari bahasa Arab “Waqafa”. yang berarti “menahan” atau “berhenti” atau “diam ditempat” atau “tetap berdiri”.

Menurut istilah bahwa para Ahli Fiqh berbeda pendapat dalam mendefinisikan dan memandang hakikat wakaf itu sendiri. Menurut Undang-Undang Wakaf yang berlaku di Indonesia bahwa wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainya sesuai dengan ajaran Islam.

B. Macam-Macam Wakaf

1. Wakaf Ahli

Yaitu Wakaf yang ditunjuk kepada orang-orang tertentu, seorang atau lebih, keluarga si wakif atau bukan.

Apabila ada seseorang mewakafkan sebidang tanah kepada anaknya, lalu kepada cucunya, wakafnya sah dan yang berhak mengambil manfaatnya adalah mereka yang ditunjuk dalam pernyataan wakaf. Wakaf seperti ini disebut juga “Wakaf Dzurri atau Wakaf ‘Alal Aulad” yaitu wakaf yang diperuntukan bagi kepentingan dan jaminan social dalam kepentingan keluarga (famili) lingkungan kerabat sendiri.

2. Wakaf Khairi

Yaitu wakaf yang secara tegas untuk kepentingan agama (keagamaan) atau kemasyarakatan (kebajikan umum). Seperti wakaf yang diserahkan untuk keperluan pembangunan masjid, sekolah, jembatan, rumah sakit, pati asuhan anak yatim dan sebagainya.

C. Unsur-unsur Wakaf

Dalam Fiqih Islam dikenal ada empat rukun atau unsure wakaf yaitu:

1. Orang yang berwakaf (Wakif)

2. Benda yang diwakafkan

3. Nadhir / Penerima wakaf

4. Lafazd atau pernyataan penyerahan wakaf.

D. Wakif

Wakif adalah Pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.

Menurut Undang-undang RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf dan PP RI No. 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang RI No. 41 tentang Wakaf bahwa wakif meliputi:

1. Perseorangan

2. Organisasi atau

3. Badan hukum

E. Harta Benda Wakaf

Wakaf tidak terbatas hanya pada tanah milik (benda tak bergerak) melainkan mencakup benda bergerak dengan syarat memiliki daya tahan lama dan bernilai, supaya harta wakaf tersebut dapat dimanfaatkan untuk jangka panjang,

1. Benda Tidak bergerak

a. Tanah

b. Bangunan

c. Tanaman

d. Rumah

e. Benda tidak bergerak lainnya sesuai dengan ketentun Syariah

2. Benda bergerak

a. Uang

b. Logam Mulia

c. Surat Berharga.

d. Kendaraan

e. Kekayaan Intelektual

f. Hak sewa

g. Benda bergerak lainnya sesuai dengan ketentua Syariah.

F. Nadhir

Nadhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.

Menurut Undang-undang RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf dan PP RI No. 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang RI No. 41 tentang Wakaf bahwa nadhir meliputi:

1. Perseorangan

2. Organisasi atau

3. Badan hukum.

G. Manfaat

Manfaat perwakafan tentunya sangat besar terhadap perkembangan keagamaan (perkembangan Islam) karena berdirinya sarana Ibadah, social, pendidikan, dan sebagainya yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat (umat Islam) tentunya sebagian besar dibangun diatas tanah wakaf, sesuai dengan prinsipnya hakikat wakaf adalah untuk diambil manfaatnya dari benda wakaf tersebut guna kepentingan keagamaan atau umat seperti: Sarana ibadah saranan social, sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sebagainya yang tidak bertentangan dengan syariah

Hidup adalah Pengabdian

•3 Januari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hidup adalah mutlak anugrah dari Allah yang Maha Kuasa, bukan karena keinginan manusia, melaikan karena Qadrat dan Iradat-Nya semata sebagaimana firman Allah SWT “apabila dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya “jadilah” maka jadilah sesuatu itu” (Q.S. 36 : 82).

Manusia tidak pernah meminta hidup didunia. Coba tanya diri anda sendiri.

Apakah kelahiran Anda ke dunia ini adalah keinginan anda sendiri?

Pernahkan Anda meminta lahir ke dunia?

Kalau anda laki-laki, pernahkah anda meminta dilahirkan sebagai laki-laki?

Kalau anda perempuan, pernahkan anda meminta dilahirkan sebagai perempuan?

Pernahkan Anda meminta dilahirkan pada abad ini, di negara ini dari keluarga pulan?

Pernahkah Anda meminta terlahir dari perut Ibu anda sekarang?

Kenapa Anda tidak meminta terlahir dari keluarga ningrat?

Tentu jawaban semua itu diluar kemampuan manusia, karena manusia posisinya hanya menerima atau pasrah atas anugrah tersebut. Semua itu adalah ketentuan “Qadha” Allah SWT dan tidak pernah dapat diatur oleh siapapun.

Namun demikian ketika Allah meniupkan ruh kehidupan (4 bulan dalam rahim) Manusia telah mengadakan kontrak dengan Tuhannya bahwa manusia mengakui Allah SWT adalah Tuhan. kalau seperti itu berarti manusia adalah hamba, dalam bahasa arab disebut ‘abdun yaitu orang yang menyembah (melakukan ibadah).

Dalam al-Quran Allah SWT berfirman:

‘Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkankan agar mereka beribadah kepadaku” (Q.S: 51: 56)

“Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah SWT ( Q.S: 98: 5)

dari kedua ayat diatas dapat kita ambil hikmah diantaranya:

  1. Manusia dan jin adalah mutlak diciptakan karena iradat Allah SWT. bukan permintan siapapun.
  2. Dengan iradat-Nya Allah punya hak proregatif untuk menciptakan atau tidak menciptakan makhluk (manusia) seperti halnya Q.S. 36:82.
  3. Allah SWT tidak menciptakan jin dan manusia tanpa maksud dan tujuan.
  4. Allah SWT menciptakan manusia melainkan hanya dengan maksud dan tujuan untuk beribadah kepadanya.
  5. Bahwa manusia hanya diperintahkan menyembah Allah SWT bukan yang lain.

Beribadah atau mengabdi kepada Allah SWT merupakan tujuan yang utama manusia diciptakan, dan semuanya (manfaatnya) akan kembali untuk manusia itu sendiri tidak untuk Allah SWT atau orang lain, karena Allah tidak akan terpengaruh sedikitpun dengan ibadah dan tidak ibadahnya manusia.

Maka dari itu alangkah sombongnya manusia jika tidak mau mengabdikan dirinya untuk Tuhan yang menciptakan, padahal pengabdian manusiapun belum tentu lebih baik daripada nikmat yang telah diperolehnya.


tree_ruku2

Dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT., manusia juga memiliki fungsi menjadi wakil Allah SWT di muka bumi “khalifah fil ardhi”.

Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat, “Aku hendak menjadikan (Adam) khalifah di bumi.” (Q.S. 2 : 30)

Allah berfirman “Wahai Daud sesungguhnya engkau kami jadikan khalifah dibumi” (Q.S. 38 : 26)

Mengemban amanat khalifah adalah salah satu bentuk ibadah (pengabdian) manusia kepada Allah yaitu ibadah ghairu mahdah diantaranya adalah memanfaatkan kekayaan alam, memakmurkan alam dan menjaga kelestariannya.

“Carilah keridhaan Allah di tengah limpahan kekayaan alam semesta”