Mengenal Wakaf

SEJARAH AWAL WAKAF

Wakaf pada Masa Nabi dan Sahabat

Ibnu Daqiq al-Ied dalam Ahkam al Ahkam, seperti dikutip oleh Ahkam al Awqaf susunan Muhammad Abid Abdullah al-Kabisi, menyebutkan bahwa perbuatan wakaf pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw yang mewakafkan sebidang tanah untuk keperluan muslimin.

Selanjutnya, Dr. Wahbah Zuhaily ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 92 “Lan tanaalul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun…” (Kamu belum mencapai kebajikan sehingga kamu menginfakkan sesuatu yang kamu cintai…), menyebutkan bahwa para sahabat mengamalkan ayat tersebut dengan cara bersedekah. Di antaranya seperti diriwayatkan oleh periwayat hadits (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, Turmudzi, dan Ibnu Majah) dari Anas bin Malik, bahwa Abu Thalhah adalah seorang sahabat yang memiliki kebun korma yang paling banyak di Madinah. Dari sekian banyak kebun yang dimilikinya itu terdapat kebun yang disebut Bairuha’, yang terletak berhadapan dengan Mesjid (Medinah?). Nabi sering masuk ke Bairuha’, makan korma dan menikmati air yang berasal dari dari mata air di dalamnya yang nikmat sekali. Maka dapat dipahami mengapa Abu Thalhah memandang harta yang paling disenanginya adalah kebun Bairuha’ tersebut.

Ketika turun ayat 92 surat Ali Imran, Abu Thalhah bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya harta yang paling kusenangi adalah (kebun) Bairuha’. Saya berniat menyedekahkan kebun tersebut semata-mata karena Allah Ta’ala. Aku mengharapkan kebajikan (dengan sedekah tersebut) dan pahala yang disediakan Allah. Maka tentukanlah wahai Rasulullah bagaimana sebaiknya menurut petunjuk yang diberikan Allah kepada engkau. Rasulullah Saw menanggapi: “Wah, wah alangkah baiknya, “dzalika maalun rabih” (yah, cara demikianlah menjadikan harta itu mendatangkan keuntungan). Aku mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat sebaiknya engkau menjadikan Bairuha’ untuk (dikelola) oleh karib kerabatmu.” Baiklah, lakukanlah apa yang terbaik menurut engkau wahai Rasulullah.!” Setelah itu Abu Thalhah membagi (peruntukan pemanfaatan) kebun Bairuha’ menjadi dua bagian, yaitu untuk Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Malik.

Kisah sedekah tanah Abu Thalhah kepada kerabatnya Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Malik menunjukkan bahwa sedekah kepada karib kerabat lebih utama dan, bagi yang bersedekah (mutashaddiq) hal itu lebih baik dan menjauhkan diri dari penyesalan.

Perbuatan bersedekah seperti yang dilakukan Abu Thalhah juga diamalkan oleh sahabat lain. Zaid bin Haritsah memiliki seekor kuda bernama Sabal. Tak ada harta yang demikian disenangi oleh bekas anak angkat dan pejuang muslim yang gagah berani itu melainkan kuda Sabal. Di hadapan Nabi dia menyatakan (mengikrarkan): “Kuda Sabal adalah sedekah saya.” Rasulullah Saw menerimanya dan kemudian dimanfaatkan oleh anaknya Usamah bin Zaid. Maksudnya Nabi menyerahkan (memberikan) kuda tersebut untuk dimanfaatkan oleh puteranya sendiri Usamah, yang juga seorang pejuang, yang diangkat menjadi panglima pasukan muslimin memerangi pasukan Musailamah al-Kadzdzab yang murtad dari agama Islam. Semula Zaid menanggapi dengan sedih, karena seolah-olah Rasulullah memulangkan sedekah itu untuk dirinya sendiri. Karena itu Nabi Saw menjelaskan: “Innalllaha qad qabalaha minka” (Sesungguhnya Allah telah menerima sedekah engkau).

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Umar bin Khattab menyatakan:” Wahai Rasulullah, belum pernah saya memperoleh harta demikian menyenangkan hatiku yang ditetapkan sebagai bagian (saham)ku di Khaibar. Apakah yang engkau perintahkan kepadaku mengenai tanahku di Khaibar itu? Beliau bersabda: “Habbis al-ashla wa sabbil ats- stamarah” (Tahanlah pokok kepemilikannya, dan manfaatkanlah hasilnya).

Abdullah ibnu Umar mengamalkan ayat di atas dengan cara memerdekakan maulanya bernama Nafi’, yang pernah dibelinya dari Abdullah ibnu Ja’far seharga 1.000 Dinar. Selain itu Ibnu Umar masih memiliki seorang budak perempuan berasal dari Romawi. Namanya Marjanah. Budak itupun juga dibebaskan karena mengharapkan ridla Allah. Setelah merdeka, Nafi’ (yang juga telah dimerdekakan Ibnu Umar) dinikahkan dengan Marjanah.

Muhammad al-Kabisi menambahkan bahwa perbuatan yang disebut wakaf itu dilakukan pula oleh Zubair bin Awwam dengan cara mewakafkan rumahnya, dengan cara menjadikan rumah itu sebagai sedekah untuk pelayan anak perempuannya.

Demikianlah semangat bersedekah (wakaf) hidup di kalangan para sahabat, dan diteruskan oleh para tabi’in. Pada zaman Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah, wakaf telah meluas serta memicu umat Islam untuk mewakafkan harta mereka. Jangkauan wakaf itu sedemikian luasnya, sehingga tidak hanya terbataspada penyaluran kepada kalangan fakir miskin, akan telah telah merambah kepada pendirian saranah ibadah, tempat-tempat pengungsian, perpusatakaan, sarana pendidikan, serta pemberian beas siswa untuk para pelajar, tenaga pengajar, dan orang-orang yang terlibat di dalamya.

Minat masyarakat yang demikian besar untuk berwakaf, mendorong munculnya gagasan untuk mendirikan lembaga khusus yang bergerak di bidang wakaf, baik untuk menampung harta wakaf maupun untuk mengelolanya. Di samping itu, kata Muhammad al-Kabisi, wakaf yang pada awal perjalannya berlangsung tanpa adanya pengawasan atau intervensi dari pemerintah, dalam perkembangannya, juga menuntut didirikannya lembaga khusus yang berfungsi mengawasi wakaf.

Demikianlah surat Ali Imran ayat 92 telah mendorong sejumlah sahabat menjadikan seruan mencapai al-bir (menurut tafsir berarti: syurga, puncak amal saleh atau sedekah yang paling baik) dengan cara bersedekah, yang kemudian dikenal dengan nama wakaf.

~ oleh jubaedi pada 20 Februari 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: